Who's Online |
|
We have 49 guests online |
HC Event Calendar |
 |
September 2010 |
 |
|
|
|
|
Light Offroad : Lumpur…Hujan…dan Kabut Halimun |
|
Contributed by Elisabeth Tjoe
|
|
Sunday, 30 January 2005 |
|
30 January 2005 20.35 “Thanks ya Ru…” (sambil berjabat tangan)…see u..” Seraya mengucapkan salam perpisahan dengan Heru. Setelah penumpang penuh, akhirnya bis jurusan Kp. Rambutan – Kalideres yang saya tumpangin perlahan melaju meninggalkan terminal Kp. Rambutan yang masih terlihat rame di malam yang mulai larut. Sambil memejamkan mata menahan kantuk biar nggak kebablasan… perlahan ingatanku kembali ke perjalanan kemarin. ……. Awal ceritanya YM-an (Chating boooo) dengan Ryco (anggota milist HC yg silent) discus tentang foto dan teknik2nya. Cerita punya cerita mau hunting foto bareng, eh doi bilang ikut aja ke Gunung Halimun sabtu ini. Anak-anak offroad pada mau jalan jalan santai (light offroad), camping, barbeque, dan hunting foto. Apa….??!! (mata terbelalak jidat berkerut)…sabtu ini, dadakan gitu loh…mana udah akhir bulan lagi…hiks.. Ikut ah sekalian test adrenaline dan ngerasain petualangan baru. Kebetulan, doi juga udah kenal sama Heru (gundul) waktu lagi bantuin temen temen rescue banjir di kp melayu. Contact punya contact akhirnya saya dan Heru janjian ketemu dengan Ryco di MC. Dodol ..eh Donald dinnnkkk di Cibubur… Nyang ikutan waktu itu dengan total mobil sekitar 24 mobil. - Trooper Indonesia dengan personilnya : Ryco, Pak Harry Sanusi (panggilan kehormatannya babe) + Bibib, Nizar + Ditto, Harmen, Ilham, Tansri (papi), Gelombang + Danny, Andhika + crew, Made, Pak Glen + Pak Herawan. - TLCI (Toyota Land Cruiser Indonesia) personilnya : Mas Bayu, Alien (bukan alien makhluk hijau dari luar angkasa…), Indra Camat, Mathe, Taufik, Sammy, Egga, Tommy. - SJI (Suzuki Jip Indonesia) personilnya : Indra Riana, Jerry, Arie, Tata + temennya kameramen Expedition Metro TV. - Team cengar-cengir/ ganjal ban di lumpur (HC) : Heru dan saya (Ibeth)
Sabtu, 29 Januari 2005 06.00 Berangkat dari Base Camp Heru (kantor maksudnya) dengan badan masih loyo dan mata sembab abis begadang di Base Camp. Tanpa babibu langsung aja telpon Taksi (Blue Bird) minta dijemput dan dianter ke Mc Dodol ech Dono ech Donald (gak pake bebek). Meeting point dengan Ryco sebelum bergabung dengan klub offroad lainnya. 06.15 Saya dan Gundul (Heru) dengan masing-masing daypack yang menggelembung tiba di Mc. Dono Cibubur, “Ringan nih Ru… gak kayak biasanya kalo ke gunung..” diiringi nyengir kuda si Heru. Tepat jam 7.00 Ryco dengan Trooper hijaunya tiba di Mc. Dono….(oh ini Ryco…selama ini cuma saling chatting). Dengan bagasi full muatan berisi coolbox, ikan segar dan bumbunya, grill, matras, tenda, dll. Di jok tengah tergeletak nasi putih dan ayam balado yang memerah (kelaknya dua makanan ini akan jadi nasi goreng ayam balado). Untuk menghemat waktu kami segera meluncur ke rest area Sentul yang merupakan meeting point semua peserta. “Beth, Ru…sabar yach!…soalnya orang2 ini kalo janjian itu biasanya molornya bisa 2 jam, 1 jamnya buat telat, se-jamnya lagi buat becanda…” Gak berapa lama kamipun tiba di rest area Sentul. Keberangkatan dibagi 2 rombongan, yang pertama yaitu rombongan TLCI berangkat jam 8, rombongan kedua berangkat pukul 9.00….pembuktian dari omongan Ryco… |
|
Last Updated ( Monday, 11 September 2006 )
|
|
Read more...
|
|
|
Kemarau di Mahameru.......sebuah catatan perjalanan |
|
Contributed by hendri agustin
|
|
Saturday, 30 July 2005 |
|
Akhirnya setelah menunggu satu setengah jam pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi bersama Bang Kamser dan Sato-san mengudara juga diatas langit Cengkareng menuju Malang Jawa Timur. Langit pagi ini sedikit berkabut, namun setelah pesawat mencapai ketinggian cruisingnya keadaan langit berubah menjadi warna biru bersih dengan beberapa awan Cirrocumulus yang tersebar dibeberapa tempat. Keterlambatan satu setengah jam dari jadwal yang seharusnya pasti akan membuat kami terlambat juga sampai di Tumpang. Mendekati kota Malang dari jendela kabin terlihat jelas sosok Sang Mahameru tegak berdiri dan seperti biasa kepulan asap yang mengandung debu dan pasir atau yang dikenal juga dengan sebutan "wedus gembel" selalu keluar dari kepundannya.
Tidak sabar rasanya untuk segera menyentuh pasir halus di puncak tertinggi pulau Jawa ini. Pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di lapangan udara kota Malang (sorry nama bandaranya lupa), sepi sekali hanya pesawat kamilah satu-satunya pesawat komersil yang mendarat di bandara ini mungkin inilah yang menyebabkan tiketnya lebih mahal dari pada tiket pesawat ke Surabaya, padahal jika dihitung jarak tidak begitu berbeda. Tak lama kemudian kami sudah berada di ruang tunggu bandara, tidak seperti bandara lainnya, Bandara kota Malang ini tidak memiliki ban berjalan untuk mentransfer bagasi. Maka jadilah kami harus mengambil sendiri barang-barang kami dari gerobak yang diparkir di pinggir Bandara. Sato-san yang merupakan satu-satunya peserta asing dalam group kami, tertawa terkekeh-kekeh melihat fasilitas Bandara ini, dan saya sempat ngeles dengan mengatakan "terang aja ini kan bandara kecil dari sebuah kota yang tidak begitu populer dicapai via udara". Tidaklah susah mendapatkan kendaraan menuju Tumpang dari bandara kecil ini. Dengan hanya mengeluarkan Rp.50.000,- kami bertiga sudah bisa duduk nyaman didalam mobil kijang ber AC yang segera melesat menuju Tumpang dimana beberapa teman kami sudah menunggu. Tumpang adalah sebuah kota kecil yang terletak tidak begitu jauh dari Malang dan kota kecil ini merupakan tempat dimulainya perjalanan yang mendebarkan menuju Desa terakhir di kaki Mahameru yaitu Desa Ranu Pane. Saat memasuki pasar Tumpang, mobil kami berhenti persis di depan Alfa Mart, tempat dimana kami berkumpul dengan para member HC yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Disana sudah ada Mba Nia dan Pak Iyan dari Bandung, Andreas dari Surabaya, Bli Ketut Ermil dari Bali, Pram, Tosani, Yadi, Nhanha, dan Lili dari Jakarta. Tak lama kemudian Mba Endah dari Kalimantan yang datang bareng dengan Tina dari Bandung, Maulana datang bareng Rizky. Segera setelah itu kami mulai meloading ransel-ransel besar kami keatas Jeep yang akan kami pakai menuju Ranupane. Lepas tengah hari kami berangkat, sebetulnya masih ada rekan dari Surabaya yang belum datang yaitu Rara, Yeni, Yoni dan Tanty. Akan tetapi menurut Rizky mereka akan datang menyusul besok langsung ke Ranupane. |
|
Last Updated ( Wednesday, 20 September 2006 )
|
|
Read more...
|
|
|
Mengunjungi gunung para Raja dan Putri |
|
Thursday, 28 July 2005 |
|
Pesawat Adam Air yang saya tumpangi bersama Tammy teman semilis di highcamp mendarat mulus di Bandara Tabing Padang. Hari masih pagi, sekitar jam 08.00, kami berdua langsung menuju Minang Plaza sebuah shooping mall di kota Padang karena kami berdua akan janjian bertemu dengan dua orang anggota tim perjalanan pendakian kali ini yaitu Kang Ronny dari milis highcamp Bandung dan Lastri dari milis highcamp Batam. Kami berempat akan mendaki Gunung Talamau yang merupakan gunung tertinggi di Sumatera Barat. Gunung mempunyai banyak keistimewaan baik dari objek wisata alamnya maupun cerita mitos yang dipunyainya membuat gunung ini sedikit berbeda dengan gunung lainnya di Indonesia. Dipuncak gunung ini kita bisa menemukan 13 telaga dan juga sebuah air terjun besar yang berada di pinggang gunung ini. Nama-nama telaga yang ada dipuncak ini pun juga diberi nama dengan nama-nama putri kerajaan Minang Kabau dahulu kala yang berkaitan dengan sejarah daerah Pasaman.
Setelah cukup lama menugu akhirnya berturut-turut Kang Ronny, Lastri muncul, dengan bantuan dari moderator milis highcamp Padang, Maryulis Max akhirnya kami mendapatkan mobil carteran langsung menuju Pasaman tepatnya menuju Desa Pinaga dimana titik awal pendakian dimulai. setelah 4 jam mengedarai mobil, sekitar jam 16.15 kami sampai di Desa Pinaga, desa ini terletak di jalan raya yang menghubungkan Panti dan Simpang Empat. Karena masih sore kami tidak ingin membuang waktu segera kami mulai perjalanan pendakian menuju Pos II Harimau Campo, tempat dimana kami akan mendirikan tenda dan bermalam. Medan pendakian dari Desa Pinaga hingga Pos II merupakan daerah perladangan penduduk. Gunung Talamau ini memang tidak begitu tinggi, ketinggiannya hanya 2912m dpl. Akan tetapi pendakian dimulai dari ketinggian 287m dpl yaitu Desa Pinaga. Sehingga membuat gunung ini punya tantangan tersendiri untuk didaki. cukup lama kami mendaki dan sekitar jam 18.30 sore akhirnya kami sampai di Pos II Pondok Harimau Campo. Tidak ada siapa-siapa disana, segera tenda didirikan, ternyata di pos ini tidak ada sumber air, sedangkan air terjun Puti Lenggo Geni terletak sedikit jauh turun kearah lembah. akhirnya kami memutuskan untuk tidak memasak makan malam, kami hanya memakan roti dan segera tidur karena badan cukup letih usai perjalanan. Saya sebelum tidur menyempatkan diri untuk mengirimkan email pada milis highcamp yang melaporkan perkembangan perjalanan kami. Kebetulan di Pos II ini sinyal HP masih bagus sehingga memungkinkan saya untuk melakukan koneksi ke Internet. |
|
Last Updated ( Saturday, 29 July 2006 )
|
|
Read more...
|
|
| | << Start < Previous 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
Highcamp Campaign
 |
SEKILAS INFO MILIST HIGHCAMP
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Profil Petualang |
|
 Ripto Mulyono Click for detail |

|