|
Matahari yang terik pagi itu tidak menyurutkan semangat para peserta Sekolah Gunung Highcamp ke empat (SGHC IV), yang tengah mempraktekan simulasi pencarian terhadap pendaki yang hilang di gunung. Dengan semangat mereka mempraktekan teknis close grid yaitu teknis pencarian dengan melakukan penyapuan dengan rapat terhadap daerah yang dicurigai kemungkinan korban berada disana.
SGHC adalah event tahunan yang selalu digelar oleh komunitas mailing list highcamp the adventures dan pada tahun ini sudah merupakan yang ke empat kalinya. Event SGCH pertama kalinya diselenggarakan di Sukamantri – Gunung Salak dengan materi bahasan Manajemen Perjalanan dan Navigasi Darat, SGHC II yang bertempat di Ranca Upas – Bandung Selatan membahas mater Survival yaitu Bivak dan Tumbuhan Survival serta Navigasi Darat. Pada SGHC ke III yang bertempat di Gunung Papandayan materi yang di bahas kembali penekanan pada Navigasi darat lengkap dengan simulasi mirip Orienteering game.
Pada SGHC kali ini materi yang dibahas dan dipraktekan bersama adalah Mountain Search And Rescue yang berlokasi di Gunung Manglayang – Bandung Timur. Peserta yang ikut kali ini adalah 50 orang anggota milis highcamp yang berasal dari kalangan para pekerja kantoran di Jakarta, Bekasi, Tanggerang, Bandung dan bahkan ada satu peserta yang dari Palembang. Dengan tingkat pemahaman terhadap mountaineering yang berbeda dari setiap pesertanya, menjadikan SGHC mempunyai ciri khas tersendiri dalam pelaksanaannya. SGHC merupakan ajang sharing berbagi ilmu yang dicetuskan pertama kali oleh pendiri milis highcamp. Dengan tujuan agar kegiatan bermilis tidak hanya sekedar berkorespondensi via internet dan lalu copy darat dengan jalan-jalan naik gunung. Akan tetapi lebih dari itu milis bisa dijadikan sebagai ajang sharing pengalaman dan ilmu teknis berkegiatan di alam berbeda.
Pemilihan materi SAR Gunung untuk materi SGHC IV adalah dengan harapan para peserta yang memang memiliki hobby mendaki gunung ini setidaknya bisa mengerti dan tahu bagaimana sebuah operasi SAR Gunung dilakukan, apa saja tahapannya, bagaimana bentuk pelaksanaannya, dengan demikian jika mereka suatu saat nanti berada dalam posisi survivor, mereka setidaknya bisa membantu mempermudah tim SAR dalam melakukan pencarian terhadap dirinya. “Kami tidak berharap mereka suatu saat di SAR, akan tetapi jikalau hal itu terjadi setidaknya mereka sudah tahu cara kerja sebuah tim SAR dan dengan mengukur kemampuan mereka sendiri, mereka bisa berbuat sesuatu yang bisa mempermudah kerja tim SAR dalam menemukan mereka. Itulah benang merah yang kami harapkan dari kegiatan kali ini ”, demikian diucapkan oleh Muhamand Anshori yang akrap dipanggil dengan “Ori”, yang pada SGHC ke IV ini menjabat sebagai penanggung jawab event ini. Hal tersebut kembali ditekankannya saat diwawancara oleh reporter DAAI TV yang meliput pelaksanaan event ini.
Atmosfir santai tapi serius dan tidak melupakan unsur plesirannya merupakan ciri khas tersendiri dari SGHC, hal ini menjadikan peserta tidak jenuh dalam mengikutinya hingga akhir kegiatan. Dengan semangat mereka bergerak dari basecamp Batu Kuda menuju titik awal pencarian. Skenario dari simulasi adalah pencarian terhadap dua orang pendaki gunung yang telah tersesat di hutan gunung Manglayang. Pencarian dipusatkan pada sebuah lembahan hingga ke punggungan puncak barat, pencarian pertama menggunakan teknis close grid. Peserta SGHC dibagi menjadi 7 SRU (Search Rescue Unit). Peserta menjadi bersemangat lagi saat menemukan barang-barang yang disinyalir merupakan milik Survivor, tak lupa mereka memasang Marker pada temuan tersebut. Kemudian teknis pencarian dirubah menjadi trekking mode saat tim SAR SGHC bertemu dengan jalur jalan setapak menuju puncak.
Pencarian hari pertama belum menemukan survivor, kemudian SRU mendirikan flying camp di pucak Barat Gunung Manglayang. Meskipun hujan malamnya turun dengan deras sekali, tapi tidak menyurutkan semangat peserta. Ini terbukti pada pagi harinya mereka melakukan side trip ke puncak utama Gunung Manglayang dan dengan semangatnya berfoto ria dipuncak tersebut. Pada pencarian hari kedua ini, di dapat informasi dari basecamp bahwa disinyalir hasil temuan pada hari pertama memang benar milik korban dan ini membuat daerah pencarian semakin dipersempit. Dengan melakukan teknis pencarin Type Tiga, kembali SRU dari SGHC bergerak menyapu turun sebuah lembah dan akhirnya korban dua pendaki gunung tersebut berhasil ditemukan oleh SRU 3 dalam keadaan cidera patah tulang dan berlindung didalam bivak alam. Selesai makan tumpengan bersama seluruh peserta kembali ke sekretariat Sadawana dan kemudian pulang menuju Jakarta . Selama kegiatan SGHC IV ini, banyak dibantu oleh teman-teman dari PPG SADAWANA – Bandung Timur yang selalu setia mendampingi setiap SRU dalam melakukan simulasi. Semoga kedepannya highcamp bisa membuat SGHC lebih baik lagi dari yang sebelumnya. KLIK DISINI UNTUK LIHAT ALBUM FOTO MILIK PANITIA |