|
Jalinan akar dan jalur tanah yang sedikit basah merupakan tantangan tersendiri dalam perjalanan kali ini. Memilih pijakan yang aman di antara batuan licin berlumut, merunduk melewati batang – batang pohon tumbang yang menutupi jalan, dan juga melawan hawa dingin yang dibawa kabut dari puncak.
“Jiayou….semangat Naya!!!” kalimat sederhana itu yang bolak – balik saya ucapkan baik dalam hati atau dengan umam kecil yang mungkin hanya jadi konsumsi pribadi. Pemandangan jalur menanjak seolah tak ada ujung dan tak ada habisnya, belum lagi teman - teman seperjalanan yang rata – rata sudah berpengalaman dengan rute pendakian ini menjadi tantangan lain bagi saya yang newbie ini. GAK MAU JADI SWEEPER merupakan target perjalanan kali ini, maka beberapa kali saya mencuri start melanjutkan perjalanan duluan saat teman – teman masih berhenti sejenak mengatur nafas dan meregangkan otot – otot punggung.
Etape pertama perjalanan ini dari pos pendaftaran GPO sampai dengan lunch break di shelter buntut lutung merupakan fase penentuan yang penting, karena sepanjang jalan ini badan saya masih menyesuaikan dengan kondisi perjalanan, nafas megap – megap karena paru – paru masih kaget, punggun juga masih adjustmen sama my new pinky carrier yang sepertinya perlu di reparasi di bagian tali pundaknya, dan ego juga masih di puncak bawaannya gak rela kalo di lewatin orang di jalur pendakian. Selepas makan siang, dan shalat dzuhur (akhirnya ngerasin juga shalat di tengah hutan…sayang gak ada yg motret) perjalanan menuju camp Surya Kencana di lanjutkan. Kali ini kondisi badan sudah lebih bersahabat, nafas dan langkah pun sudah lebih teratur, akar dan batang pohon sekarang menjadi teman yang sangat bermanfaat untuk jadi tumpuan sepanjang perjalanan, tapi ego (ya entah makhluk apakah itu tapi ia sangat sulit di kendalikan) masih saja menggelitik dan terus mendorong tubuh dan kaki ini melangkah terus dan memastikan posisi ada di rombongan depan (gak rela jau – jauh dari Bang Hendri, pokoknya gak boleh jadi sweeper!!!)
Rupanya berjalan demi memuaskan ego benar – benar menguras tenaga, dan sepertinya signal kelelahan itu tertangkap jelas oleh teman – teman yang memiliki pengalaman lebih soal pendakian. Dari Persimpangan Maleber perjalanan menjadi lebih konstan, ya konstan berenti tiap beberapa langkah maksudnya, tapi beruntung peserta perjalanan ini semuanya orang – orang yang berhati cantik kerena mereka juga konstan memberikan saya semangat “ngak jauh lagi kok Nay….!!!” Semua berusaha meyakinkan saya. “sebentar lagi kita ketemu jalur datar, nah kalo udah di situ gak jauh kita masuk ke alun – alun timur Surya Kencana”. Padahal camp area dari gerbang timur juga lumayan jauh. Yah mungkin itulah salah satu bentuk bohong demi kebaikan. Memasuki gerbang timur Surya Kencana sekitar pukul tiga sore, sesuai dengan rencana perjalanan ditempuh selama delapan jam dari titik start (perjalanan dari pos GPO dimulai sekitar jam 7 pagi). Selanjutnya yang terlihat hamparan luas yang di hiasi pepohonan edelwise sejauh mata memandang. Rasanya takjub sekali meliahat pemandangan indah itu, mengingat ini pertama kalinya juga saya menikmati hamparan bunga yang katanya lambang cinta abadi sebanyak itu. Setelah istirahat sejenak dan memuaskan hasrat narsis dalam diri perjalanan dilanjutkan menuju alun – alun barat. Namun lagi – lagi karena ego dan ingin segera sampai entah mengapa langkah kaki saya di jalan datar ini malah bertambah cepat, sprint sampai finis di camp area.
Sore itu tidak banyak kegiatan yang di lakukan, setelah selesai memasang tenda dilanjutkan dengan masak – memasak untuk makan malam, dan setelah perut terisi dan membersihkan badan kebanyakan peserta langsung beristirahat dan menghangatkan tubuh di dalam tenda. Ya udara malam itu memang sangat dingin, bahkan hembusan angin tak henti – hentinya menguncang tenda kami sampai pagi menjelang. Suasana di camp area penuh dengan keceriaan, setiap waktu yang berlalu di isi dengan tawa hangat, obrolan ringan, dan celaan menghibur, yang membuat suasana semakin akrab antar peserta. Belum lagi kegiatan reli memasak yang tidak ada habisnya, sampai – sampai Bang Kamser sedikit kewalahan karena di daulat untuk mencicip semua menu di setiap dapur yang ngebul di sana ya sebeneranya itu bentuk penghormatan dan perhatian semua peserta terhadap abang kita yang punya hajat dalam pendakian kali ini. Dengan waktu dua hari di Surya Kencana setiap peserta benar – benar dapat memuaskan diri dengan berbagai kegiatan, mulai dari hunting foto, berjalan – jalan bebas menjelajah Surya Kencana, atau sekedar ngobrol dengan peserta lain sambil menikmati segelas minuman hangat (kalo yang ini dapur umum “RT” tempat Mba Lili dan Mas Totok gak ada matinya bahkan sampai tengah malam). Keakraban semakin terjalin saat games – games seru di gelar pada sore ke-2 di Surya Kencana. Mba Suwasti yang memang berpengalaman menghandel kegiatan Out bond tampak cekatan memimpin kegiatan tersebut, tidak terasa satu jam lebih kami bermain bersama dan terlarut dalam kehangatan kebersamaan itu. Dan malam harinya puncak acara pun di laksanakan kegiatan tiup lilin untuk merayakan ulang tahun Bang Kamser dan Mba Suwasti (yang ternyata juga ulang tahun di tanggal yang juga sama dengan Bang Kamser).
Hari terakhir di Surya Kencana di mulai dari subuh, sekitar pukul 5 pagi dapur tim pinky brokoli sudah kembali mengepul untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk perjalanan pulang. Sekitar pukul 9 setelah seluruh peserta selesai packing, dan sedikit stretching ringan semua berkumpul berdoa bersama untuk kesalamatan di perjalanan. Rute turun di awali dengan mendaki ke puncak Gunung Gede yang ditempuh sekitar satu jam perjalanan mendaki. Lagi – lagi makhuk aneh bernama ego itu datang menggoda, kembali berbisik mendorong saya untuk terus melewati batu – batuan yang membentuk jalur pendakian. Sedikit khawatir sebenarnya mungkin karena semalam tenda yang semestinya di isi 4 orang hanya di huni saya dan cole yang membuat udara di dalam terasa semakin dingin dan membuat susah untuk tidur, badan terasa sedikit tidak nyaman ya gejala masuk angin sepertinya, walau jalur ini kedua kalinya saya lewati (karena sudah submit attack subuh sebelumnya, berburu sunrise di puncak Gede) namun tetap saja terasa berat karena carrier yang ada di pundak. Dari puncak Gunung Gede perjalanan di lanjutkan dengan track menurun ke arah Kandang Badak, jalurnya lagi – lagi perpaduan akar dan bebatuan, dan hampir saja saya melewati jalur rantai yang agak curam tapi untuk Kang Ricky nenunjukan saya ke arah jalur melipir yang lebih aman. Sepanjang jalur ini saya banyak berjalan sendiri dan kesempatan ini saya manfaatkan dengan banyak berdialog dengan diri sendiri bernegosiasi dengan ego agar ia mau di kendalikan. “Oke posisi masih aman di depan, pokoknya musti sampe duluan di Kandang Badak supaya bisa curi start turun ke Ciberem”. Dan tidak lama di kandang badak saat orang lain sibuk makan siang saya, Bang Irvan, dan Mba Ella memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan karena ingin segera sampai di warung Mang Idi dan beristirahat, kalau saya pribadi selain ingin mencetak rekor gak jadi sweeper motifasi lainya adalah mau ketemu toilet…ah bener – bener begah perut rasanya tidak di kuras dua hari ini, maklum saya agak susah untuk buang hajat di semak belukar gak tega sama makhluk hidup yang ada di sana.
Mungkin karena semakin terasa lelah, langkah – langkah kaki saya pun melambat dan sewaktu saya sedang berhenti sejenak tidak jauh dari pos Cibereum saya tersusul oleh dua anggota tim Pinky Brokili lainnya Kang Maman, dan AndiCole. Berbeda dengan kondisi saya saat itu mereka berdua sepertinya sedang on fire kalo kata Kang Maman “si Andi lagi ngidam soto di bawah, makanya mau cepet – cepet turun”. Setelah istirahan sejenak di pos Cibereum perjalanan di lanjutkan menuju Cibodas dan kali ini langkah saya benar – benar melambat bahkan Kang Maman yang biasanya jadi pengawal di belakang, saya persilahkan untuk jalan di depan saya. Jalan bebatuan setelah jembatan kayu memang cukup bikin frustasi jalur ini seolah tidak ada habisnya. Beberapakali saya mencoba menghibur diri untuk megalihkan rasa lelah dengan bercanda ringan dengan anggota tim yang lain, bahkan saya mencoba menghibur mereka semua dengan bernyanyi, tapi sayang di protes, katanya suara saya malah bikin frustasi ya akhirnya saya kembali diam dan hanya bisa terus melangkah perlahan. Kira – kira pukul 4 sore akhirnya kami (saya, Kang Maman, Bang Irvan, dan AndiCole) tiba di Posko Montana…..ah mission accomplish dan sukses I set my bar higher karana kali ini saya gak jadi sweeper lagi… Lagi – lagi terima kasih sebesar – besarnya untuk orang – orang berhati cantik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam perjalanan kali ini. Warna kalian semua sudah menambah indah kanvas hidup saya, dan semoga ada kesempatan untuk kita berada dalam kanvas lukisan cerita hidup berikutnya. Love you all, mmmuuuuuaaahhh…
foto2nya dari berbagai sumber secara kemaren gak bawa kamera |