Bukan kerja ringan, ketika mendapatkan tugas untuk mempersiapkan tim pramuka yang mau berekspedisi ke Mc Kinley, Denali, Alaska. Sebuah daerah ekstrim dingin karena terletak pada belahan kutub utara. Dari 4 pendaki yang disiapkan, hanya 1 orang yang pernah mendaki di gunung es. Sedangkan gunung es yang akan didatangi adalah sebuah gunung yang menjadi target para pendaki dari seluruh dunia, salahsatu puncak dari 7 puncak-puncak tertinggi dari tujuh belahan lempeng benua di dunia, yang dikenal dengan program pendakian "Seven Summits". Akan tetapi ini bukanlah kerja yang mustahil. Saya pribadi pernah terlibat dengan ekspedisi Indonesia dengan kondisi yang hampir sama, yakni ekspedisi Indonesia ke Everest tahun 1996-97, sebuah ekspedisi gabungan sipil-militer. Para pendakinya juga banyak yang belum punya pengalaman mendaki di gunung es. Dan perlu dicatat juga bahwa kedua summiter yang tercatat di Kementrian Pariwisata Nepal, sebagai pendaki Indonesia yang sampai puncak Mount Everest pada waktu itu, Asmujiono dan Misirin, adalah orang-orang miskin pengalaman mendaki gunung es. Hanya Misirin yang pernah mendaki Puncak Mandala yang cukup dingin dan kadang berlapis es, sedangkan Asmujiono sama sekali belum pernah mendaki gunung es.
Rencana ekspedisi ini telah muncul dan dibahas sejak pertengahan tahun 2007, waktu itu ketua dan penggagas ekspedisi, Rudi Harsono, datang dan menawarkan untuk terlibat langsung pada ekspedisi ini untuk melatih kemampuan teknis dari masing-masing pendaki. Pada mulanya mereka menyiapkan tim pendaki sebanyak 3 orang saja, yakni Rudi, Pungkas, dan Zulfa.
Sekitar Oktober pada tahun yang sama, mulai dibahas di Kwarnas Gerakan Pramuka, bersama dengan Sekjen Pramuka, Kak Yudi, Kak Prijo selaku staf khusus, Kak Bayu Tresna, dan beberapa staf lain, juga melibatkan tim pendaki dan para penasehat ekspedisi. Berbagai kemungkinan dibicarakan, termasuk peluang sekiranya dilakukan ekspedisi dengan kondisi 3 pendaki (Rudi, Zulfa, dan Pungkas) tersebut. Maka diputuskan untuk mencari tambahan pendaki sehingga bisa mempunyai pilihan pada ekspedisi nanti. Maka, masuklah Ni’matur Rohmah bergabung pada tim ini.
Mulai Januari 2008, secara priodik mulai disusun pelatihan yang secara garis besar kami bagi, persiapan fisik dengan pelatih Hartman Nugraha (biasa dipanggil Agay) dan persiapan teknis dilatih oleh saya. Oleh sebab itu, saya dan Agay terus berkoordinasi untuk berbagi waktu dan jenis latihan. Karena kedua pelatihan tersebut, tetap saja akan menguras tenaga para pendaki. Dan mulai januari 2008 tersebut, pelatihannya sangat ketat. Agay selalu mengambil waktu 5 kali seminggu, senin-jumat, selama 2 jam kegiatan. Kemudian saya mengambil 3 kali seminggu, dengan waktu yang sering lebih dari 3 jam. Kemudian, sejak tanggal 21 April 2008, seluruh atlit pendaki memasuki Training Center di Wiladatika-Cibubur. Sehingga dalam kondisi TC ini, para atlit bisa melakukan latihan fisik 2 kali sehari dan latihan teknis 1 kali. Malamnya diisi dengan diskusi mengenai berbagi hal, seperti taktik-taktik pendakian, kesehatan perjalanan, bedah buku pendakian, mengenal lebih jauh tentang Mc Kinley dengan melihat laporan perjalanan orang lain, melihat film-film pendakian, dan juga pembekalan psikologi guna meningkatkan motivasi dalam menghadapi tantangan ekspedisi ini. Kami juga sangat sadar akan kondisi-kondisi yang akan dihadapi para atlit ketika menjalani rutinitas pelatihan. Seperti misalnya untuk memanjat, pada dinding panjat, mereka bisa melakukan dengan memanjat 5 kali naik dan turun, yang dilakukan dalam 5 seri. Berlari selama lebih dari 1 jam, dengan 25 kali putaran lapangan bola, yang kemudian ditambah dengan latihan kekuatan yang berseri-seri.
Ini sebuah kegiatan yang membosankan...
Model dan bentuk latihan teknis yang saya terapkan mempunyai uraian singkat seperti dibawah ini,
Latihan Teknik Dasar
Mulai dari pengenalan alat-alat pendakian dasar, simpul, management rope, ascending, descending, tambatan-tambatan, belaying, teknik memanjat, mulai dilatih secara rutin. Latihan Teknik Khusus Pendakian Es dan Salju Latihan pendakian gunung es dan salju sepenuhnya adalah latihan simulasi yang diperkirakan akan sering dipergunakan pada saat ekspedisi nanti. Mulai mengenal alat-alat dasar pendakian es yang tersedia di Jakarta, berdasarkan sisa-sisa pendakian terdahulu. Melakukan latihan teknis penggunaan peralatan es, seperti crampon, ice axe, sistem pertolongan diri di es, self arrest, cara berjalan di es (French n Germany Method). Simulasi Pendakian 1. Pendakian gunung di Gunung Gede dan Pangrango. Materi sesi ini adalah simulasi yang difokuskan kepada kemampuan bergerak mendaki dengan beban tetap dan bergerak secara kontinyu dan cepat. 2. Simulasi pendakian tebing batu di Citatah, Jawa Barat, materi pada sesi ini ditekankan kepada kemampuan memanjat dan rescue. Simulasi di Es Dilakukan simulasi dan merasakan aktivitas di es dengan suhu sekitar -16º C (minus 16º C) di "Ice World" – Ancol. Latihan dan beraktivitas disini adalah memberikan pengalaman kepada para pendaki tentang bagaimana melakukan kerja/aktivitas di tempat dingin. Training Center Bertempat di Wisma Timur Wiladatika, seluruh tim dikonsentrasikan pada pemusatan latihan. Setiap hari, Senin hingga Sabtu, para pendaki berlatih teknis bergantian dengan sesi latihan fisik. Materi yang secara spartan terus diasah ialah kemampuan memanjat, penguasaan management rope, teknik-teknik pertolongan, simulasi peralatan es, dan pengetahuan tentang pendakian di gunung es dan salju. Memanjat dengan membiasakan pada alat-alat pendakian gunung es, seperti crampon dan ice axe, mereka lakukan dengan terus menerus. Melatih kemampuan lengan dalam memanjat, sarapannya adalah memanjat lintasan "flying fox"nya Lemdikanas di Wiladatika Cibubur sepanjang 50 meter, dari bawah ke atas, terus mereka lakukan dengan berbagai perasaan. Semuanya bukan kondisi yang mengenakkan, akan tetapi terus dilakukan secara bergantian. Pada pelatihan teknis yang memang memerlukan partner, saya dibantu oleh teman-teman dari Wanadri, Fajar dan Handoko yang terus menerus membantu dan mendampingi mereka berlatih. Kadang juga bersama dengan John, yang biasa membantu Agay dalam latihan fisik, ikut nimbrung dalam latihan teknis. Perkembangan dalam kemampuan teknis pendakian terlihat sangat pesat. Pada awal bergabung dalam tim, para pendaki masih kurang menguasai teknik dan peralatan pendakian dengan baik.
Pada akhir Mei 2008, para pendaki sudah bisa secara simultan melakukan pemanjatan di dinding panjat 10 kali turun-naik tanpa henti yang dilanjutkan dengan naik tali dengan ascender, dalam 3 seri (atau 3 X 10 kali pemanjatan). Pengetahuan dasar tentang pendakian gunung es dan salju, pengetahuan tentang pendakian gunung dilakukan sambil membedah buku „Mountaineering-Freedom of the Hills", yang merupakan buku wajib yang mesti dibaca untuk menyiapkan pendakian di gunung es dan salju. Pengetahuan tentang kepramukaan, dibantu oleh kakak-kakak dari Lemdikanas, pembekalan kepramukaan disampaikan pada waktu luang pada program pemusatan latihan. Pertolongan dan Penanggulangan Gawat Darurat, secara resmi, program ini belum dilaksanakan. Kecuali secara bersama-sama dalam waktu luang disela latihan rutin, membahas tentang mountain hazzard dan juga termasuk mountain sickness. Photografi dan Film, pelatihan photografi juga belum sepenuhnya efektif. Hal utama adalah karena kekurangan alat. Pemeriksaan Kesehatan, juga telah dilakukan untuk tim ini, yakni oleh Klinik Gelora Senayan, dengan hasil bahwa seluruh anggota tim dinyatakan sehat dan layak berangkat.
Taktik Pendakian
Menyadari kondisi tim yang minim pengalaman mendaki di gunung es, maka dalam melakukan ekspedisi tim akan berangkat lebih awal dari schedule pendakian yang akan diikuti. Dimana tim akan mengirimkan 3 pendaki untuk bergabung dengan rombongan pendakian yang dipimpin dan diatur oleh Mountaintrip, USA. Kedatangan lebih awal untuk melakukan latihan dan aklimatisasi di sekitar base camp Mc Kinley. Setelah dari sana, kami akan melakukan seleksi 3 pendaki yang ikut ekspedisi berdasarkan kesiapan setelah mengalami aktivitas di es dan salju.. Pada perkembangannya, ketika Rudi tidak bisa ikut, maka pelatih fisik dan pelatih teknis semuanya ikut dalam tim pendaki sebagai cadangan untuk memenuhi kuota 3 orang pendaki tersebut, ketika kemungkinan pendaki tidak bisa ikut setelah berlatih dan aklimatisasi. Oleh sebab itu, semua anggota tim (kecuali kak Bayu Tresna) akan mengikuti latihan dan aklimatisasi di BC Mc Kinley di Kalhitna, pada sebuah padang glacier. Karena memang tekad seluruh tim yang terlibat, termasuk para kakak2 pendukung di kwarnas, bahwa apapun kondisinya, tim ini mesti berangkat. Maka, ketika saya dan Ni’matur Rohmah tidak mendapat visa kunjungan Amerika, yang berangkat ada 4 peserta. Kak Bayu sebagai ketua ekspedisi dan membantu hal2 non teknis, sedangkan ketiga pendaki yang lain menjadi pendaki utama dan tanpa cadangan lagi.. Seleksi dan pengamatan kondisi pendaki di Mc Kinley sepenuhnya memang menjadi tanggungjawab Mountaintrip yang menangani ekspedisi ini. Dan ini ternyata sudah dilakukan dengan baik oleh mereka, itu kita bisa melihat laporan yang mereka kirimkan..
Memang patut saya akui bahwa persiapan yang spartan ini belumlah sampai pada kondisi optimal. Akan tetapi, ketika kami berunding dan memutuskan untuk pemberangkatan tim ini. Kami menganggap tim ini layak untuk berangkat, walau kami tahu bahwa tim yang berangkat sebanyak 4 pendaki tersebut harus bekerja lebih keras karena berbagai kendala yang menyertainya.
Bravo...